Minggu, 03 Februari 2008

Surat Kaleng Tentang Supersemar

Surat Kabar Mingguan Versus No.13/Th.I/5 - 25 Desember 2001


Surat Kaleng
Tentang Supersemar



Oleh Dasman Djamaluddin


Tertanggal 30 September 1998, saya (penulis artikel ini dan Penulis Buku Basoeki Rachmat dan Supersemar) kedatangan surat tanpa alamat. Surat itu saya namakan surat kaleng, karena, pertama, amplopnya yang berupa amplop dinas tersebut tanpa disertai nama dan alamat si pengirim yang jelas dan kedua, tanda tangan di dalam surat tidak disertai nama jelas.

Saya kutip isi surat kaleng tersebut sesuai dengan aslinya, termasuk kalimat-kalimat salah tik. Surat tersebut nampaknya tidak dikomputerisasi, tetapi di tik dengan mesin tik biasa. Lengkapnya sebagai berikut :

Bung Dasman Djamaluddin
Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Tentang Super Semar ? Apa sih yang anda ragukan, keberadaannya atau prosesnya.

Bahwa Perintah 11 Maret ada, tentang Bung Dasman meyakininya karena memang ada sambutan Presiden Sukarno yang mengantarkan dan kemudian membacakan Perintah, dan usia 11 tahun pada waktu tahun 1966 sudah cukup untuk mengingatnya.

Tentang 3 Pati yang menghadap Presiden Sukarno di istana Bogor, tentang M.Panggabean, tentang Markas Kosrad, tentang Jalan Agus Salim dan seterusnya dan seterusnya, itukan hanya proses saja.

Tiga puluh tahun saya bekerja di administrasi dan banyak menggeluti kesekretariatan dan hukum :

1. Pernah ada SK yang harus di tanda tangani Direktur Utama dan karena SKnya penting serta segera, padahal Dirut sedang main Golf di Bogor maka saya menyuruh karyawan untuk menekenkan di Bogor. Tapi redaksinya tidak dirubah dari dikeluarkan di : Jakarta menjadi dikeluarkan di Bogor, karena penanda tanganan saya anggap hanya soal tehnis sedangkan yang prinsipnya adalah materi SK tersebut.

2. Pernah ada pula Surat Perjanjian yang sudah disiapkan dan semula akan ditanda tangani dikantor di Jakarta. Tapi kemudian dirubah menjadi ditanda tangani disebuah restoran di Puncak. Redaksinya tidak dirubah menjadi Puncak tanggal.......

Jadi konkrinya konkritnya Super Semar itu ada dan malah saya bersyukur kehadirat Allah SWT. Coba rasanya belum bisa dibayangkan kalau PKI waktu itu menang dengan kupnya. Inilah yang mesti direnungkan.

Jakarta, 30 September 1998

Ditandatangani, tetapi tanpa nama jelas.

Pertama-tama kita melihat dari bentuk surat di atas, yang ditanda tangani, tetapi tanpa nama jelas, berikut amplop tanpa nama dan alamat si pengirim, maka mungkin kita sepakat menamakan surat ini sebagai Surat Kaleng.

Kedua, kalau kita mau menelusuri amplop yang berupa amplop dinas, maka surat tersebut berasal dari sebuah kantor resmi atau dari sebuah departemen. Singkatnya tidak ditulis di rumah.

Ketiga, surat tersebut ditulis tergesa-gesa atau boleh jadi sengaja hurufnya disalahkan agar yang mengetik tidak diketahui identitasnya. Hal ini terlihat dari banyaknya kalimat-kalimat yang salah. Lihatlah penulisan Super Semar yang seharusnya Supersemar. Penulisan Presiden Sukarno yang seharusnya Presiden Soekarno (ada huruf oe nya ). Penulisan istana Bogor, yang seharusnya Bogor huruf i nya ini huruf besar, sehingga menjadi Istana Bogor. Berikutnya terdapat kalimat salah dan terburu-buru, seperti menulis konkrinya kongkritnya.

Keempat, terjadi kalimat kontroversial ketika menyatakan bahwa si penulis surat kaleng yang mengatakan bahwa dirinya tiga puluh tahun lebih bekerja di administrasi dan banyak menggeluti kesekretariatan dan hukum. Kalaulah orang tersebut berpengalaman di bidang di atas, maka tidak mungkin surat kalengnya banyak yang salah ketik. Atau mungkin si penulis surat sudah sepuh atau orang lain yang disuruh mengetik. Kalaulah demikian halnya, mengapa tidak lagi dikoreksi ?

Ke lima, surat ini bersumber dari surat pembaca saya mengenai Supersemar di Harian Merdeka edisi 25 September 1998 karena mengutip kalimat saya: "Saya di sini memposisikan diri sebagai generasi muda, yang pada tahun 1996 masih berumur 11 tahun dan berkeinginan hanya sekedar untuk mengetahui duduk persoalan sebenarnya...."

Ke-enam, kalau kita menelusuri subtansi surat kaleng tersebut di mana tertulis dua kalimat pokok yaitu: 1. Pernah ada SK yang ... dan 2. Pernah ada pula Surat Perjanjian ... (lengkapnya lihat di atas), maka dapatlah dimengerti bahwa si penulis surat kaleng ingin membenarkan dalil-dalilnya. Memang kedua dalil tersebut benar, kalau ada SK yang ditandatangani di tempat lain, tempatnya tidak berubah. Tetapi kan mengenai Supersemar lain. Surat perintah tersebut ditandatangani di Bogor, jadi seharusnya kalau mengikuti alur pemikiran si penulis surat kaleng, Supersemar tetap memakai kata Bogor sebagai tempat penandatanganan. Kok, yang terjadi malah ada yang ditandatangani di Jakarta ?

Dengan berbagai dalil di atas, saya tiba pada kesimpulan bahwa: si penulis surat kaleng tersebut adalah orang yang mengerti betul mengenai sejarah Supersemar. Dia seakan-akan ingin mengatakan bahwa Supersemar asli ditandatangani di Bogor dan bukannya di Jakarta. Jadi Supersemar yang ditandatangani di Jakarta adalah palsu.

Di dalam surat kaleng tersebut juga dijelaskan dan ditegaskan oleh si penulis surat kaleng bahwa konkritnya Supersemar ada. Kalau menurut pemikiran saya, inti surat tersebut terdapat dalam dua kalimat terakhir, yaitu :" Malah saya bersyukur kehadirat Allah SWT. Coba rasanya belum bisa dibayangkan kalau PKI waktu itu menang dengan kupnya. Inilah yang mesti direnungkan." Kita sepakat dengan peringatan ini, tetapi yang menjadi masalah mengapa tidak seorang pun berani mengatakannya secara terbuka, bahwa telah terjadi pemalsuan Supersemar. Bahkan untuk mengatakan tersebut harus menulis Surat Kaleng ? Itulah inti pokoknya.


Tidak ada komentar:

Mengenai Saya

Foto saya
I am Dasman Djamaluddin,SH,M.Hum. Journalis, Biographer and Historian